Tips Anak Tips AnakPanduan ringkas untuk pembaca yang ingin paham tanpa bertele-tele.
parenting

Saat Tantrum Meledak di Tengah Pasar: Tiga Langkah yang Saya Andalkan

Pengalaman menghadapi tantrum balita di tempat umum. Kenali pemicu, respon tenang, dan konsistensi sebagai kunci menenangkan anak.

28 Apr 2026 · 3 menit baca · oleh Aisyah Hasibuan Manurung
Saat Tantrum Meledak di Tengah Pasar: Tiga Langkah yang Saya Andalkan

Sore itu saya baru saja selesai belanja sayur di Pasar Liwa. Tas kresek di tangan kiri, tangan kanan menggandeng Raka yang baru berusia dua setengah tahun. Tiba-tiba, ia merebahkan diri di lantai semen sembari menjerit. Wajahnya merah, kakinya memukul-mukul lantai. Beberapa ibu melirik, ada yang tersenyum maklum, ada pula yang geleng-geleng. Saya menarik napas dalam. Tantrum. Lagi.

Setelah enam tahun menjadi ibu, saya sadar bahwa tantrum bukanlah musuh. Ia adalah bahasa tubuh anak yang belum pandai merangkai kata. Saat itu yang saya butuhkan bukan amarah atau malu, melainkan strategi sederhana yang sudah saya latih di rumah. Berikut tiga langkah yang paling sering saya gunakan, yang bisa Anda coba juga.

Kenali Pemicu Sebelum Badai Tiba

Sebagian besar tantrum pada balita muncul karena rasa lelah, lapar, atau terlalu banyak stimulasi. Saya mulai mencatat pola Raka. Jika ia sudah rewel setelah lebih dari dua jam di luar rumah, saya tahu waktunya terbatas. Begitu juga jika ia melewatkan waktu tidur siang – itu sama saja dengan bom waktu.

Mengenali pemicu bukan berarti menghindari semua situasi, tetapi kita bisa mengatur antisipasi. Misalnya, saya selalu membawa snack kesukaannya dan satu botol air minum saat bepergian. Jika mulai terlihat gelisah, saya ajak ia duduk di tempat teduh dan minum dulu. Kadang, hanya dengan memberikan perhatian penuh selama lima menit sudah cukup meredakan gelombang pertama. Setiap anak punya “lampu peringatan” yang berbeda – tugas kita adalah belajar membacanya.

Respon Tenang, Bukan Drama

Saat badai sudah meledak, saya menghindari dua hal: memarahi di depan umum atau langsung mengabulkan permintaannya. Anak kecil tidak punya sistem kontrol emosi yang matang. Yang ia butuhkan adalah orang dewasa yang tetap stabil, bukan ikut teriak.

Teknik yang saya praktikkan adalah “duduk dan tunggu”. Saya duduk di samping Raka, menyentuh punggungnya dengan lembut, dan berbicara dengan nada rendah. Saya katakan, “Ibu di sini. Raka marah ya. Nanti kalau sudah tenang, kita ngobrol.” Tanpa memberi ceramah, tanpa bernegosiasi saat ia masih menangis histeris. Ini butuh kesabaran—pernah sampai sepuluh menit di lorong toko—tapi hasilnya lebih cepat daripada teriak atau bujuk rayu yang bertele-tele.

Konsistensi Jangka Panjang

Langkah terakhir justru terjadi di luar momen tantrum. Saya dan suami sepakat membuat aturan sederhana di rumah: anak belajar menunggu giliran, belajar menerima “tidak”, dan belajar mengucapkan keinginan dengan kata-kata sederhana. Sejak usia delapan belas bulan, Raka kami biasakan duduk di meja makan bersama tanpa mainan. Lambat laun ia paham bahwa ada saatnya ia harus sabar.

Konsistensi ini membuat respons kami di tempat umum terasa otomatis. Tidak perlu pikir panjang saat tantrum terjadi—saya sudah punya pola yang sama seperti di rumah. Anak juga lebih cepat tenang karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, tantrum adalah bagian normal dari perkembangan emosi balita. Yang perlu diwaspadai adalah jika frekuensinya sangat sering atau berlangsung lebih dari 15 menit hingga usia di atas empat tahun. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa membaca artikel tentang tantrum pada anak di portal resmi IDAI.

Setiap kali saya melihat Raka bangkit dari lantai, menghapus air matanya sendiri, dan meraih tangan saya, saya diingatkan bahwa tantrum bukan kegagalan pengasuhan. Ia adalah kesempatan untuk mengajarkan anak tentang emosi yang besar dalam tubuh yang kecil. Selamat mencoba, Moms.

Ibu menenangkan anak yang tantrum di pasar tradisional Anak balita tersenyum setelah tenang memegang tangan ibu

Tag: #tantrum #balita #pengasuhan #tips anak #orangtua muda